Cari Blog Ini

Memuat...

21.12.19

Tentang Benih lele Paiton


Ada banyak strain benih lele di Indonesia yang telah di kembangkan untuk di budidayakan, dari lele dumbo (Clarias sp.) yang merupakan kawin silang lele Afrika vs lele lokal Thailand. Lele dumbo sendiri  diintroduksi ke Indonesia dekade tahun 1986, yang berhasil di kembangkan  pertama kali di Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) – Mojokerto. sejak pengembangan lele dumbo, Jawa Timur dikenal sebagai sentra dan pioneer pengembangan lele strain unggul di Indonesia. 

Tahun 1990 salah satu PTN di Malang bekerjasama dengan salah satu institute Belanda kembali mengintroduksi Claries garienpinus dan  mengembangkan lele Paiton yang merupakan silangan Claries garienpinus vs Claries garienpinus.

Menyusul kemudian dikembangkan lele Phyton (Pandeglang) dan— Sangkuriang (BBAT Sukabumi-2007). Sangkuriang sendiri merupakan hasil penyilangan balik dari induk Dumbo betina F2 dan Dumbo pejantan F6.

Kebutuhan benih dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan —Stok benih, ada banyak pembudidaya yang melakukan pemijahan asal-asalan sehingga terjadi —Inbreeding (perkawinan satu keturunan) dampaknya yang terjadi benih yang mengalami penurunan kualitas : cebol, tubuh bungkuk dan bengkok dan boros pakan.

Penelitian-penelitian terus dilakukan  dan pengembangan lanjutan di tahun  2007-2010 ada strain-strain baru yang muncul seperti  lele G9, Clarias Gariepinus (lokal Afrika), Ghulam, Masamo, Dumbo Super, Black-Gray dan Red Paiton. Penelitian dan pengembangan ini menjawab atas kegagalan pembudidaya tradisional yang seringkali melakukan pemijahan asal-asalan. 

Webblog Benih Lele paiton ini adalah informasi untuk menjawab pertanyaan pembudidaya lele di Indonesia yang seringkali bermasalah pada kwalitas benih, yang mudah terserang penyakit, pertumbuhan lambat, mudah lemas saat handling sortir maupun pengiriman luar kota.

Benih lele Paiton merupakan strain unggulan sehingga pembudidaya tidak perlu ragu atas kepastian panen dan memiliki nilai FCR yang rendah. untuk mendapatkan benih lele paiton wilayah Jabodetabek, silahkan kontak Plasma kami Omah Tani Maju yang berlokasi di Kranggan-Cibubur. Untuk kebutuhan luar Pulau Jawa, para pembudidaya dapat order melalui Fram kami yang ada di jawa Timur ataupun yang berada di Jakarta. 

Setiap pembelian Benih luar pulau jawa / di atas 50 ribu ekor, kami memberikan sertifikat yang di keluarkan oleh hatcheri swasta dan harga yang kami tawarkan sudah termasuk ongkos kirim hingga bandara terdekat di kota tujuan.

Anda ragu atau memiliki kendala dalam budidaya lele, jangan sungkan untuk berkonsultasi mengenai permasalahan budidaya lele. call center  081945100081 atau: email omahtani.jkt@gmail.com

1.11.12

Mesin Pencetak Pelet Lele Tekan Biaya Produksi

SEMARANG, suaramerdeka.com - Harga pakan lele berupa pelet yang terlalu tinggi berkisar Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram membuat petani di wilayah Gunungpati sering merugi.
Kelompok petani yang tergabung dalam Koperasi Putra Tani inipun bekerjasama dengan SMK Sultan Trenggono Semarang untuk membuat mesin pembuat pelet berkapasitas produksi 1 ton pelet per hari.
Pembina Asosiasi Petani Lele Jawa Tengah Lasiman mengungkapkan, dengan mesin pencetak pelet itu bisa menghemat biaya produksi sekitar 30% dan lebih efisien. Namun, harga mesin yang mencapai Rp 60 juta dinilai masih cukup berat bagi petani lele.

Mesin yang dipamerkan dalam ajang Pameran Produk Inovasi (PPI) 2012 di New PRPP Convention Centre itu kini sudah dipesan hingga tiga unit yakni di Semarang, Surabaya dan Jakarta. Untuk itu, menurutnya diperlukan sokongan perbankan agar mesin bisa dimiliki oleh kelompok tani.
Di Jateng sendiri, sedikitnya ada 3.300 petani lele yang menjadi anggota Koperasi Putra Tani.
"Sebagian memang masih berat karena harga mesin pelet kreasi anak-anak SMK ini relatif tinggi hingga puluhan juta. Seharusnya perbankan bisa membantu para petani lele karena prospeknya sangat menguntungkan dan bisa menekan biaya produksi," ujar Lasiman yang juga Kepsek SMK Sultan Trenggono ini.

Cici Tegal Ajari Bisnis Lele


Cici Tegal Ajari Bisnis Lele
Penulis : Dinny Mutiah
Rabu, 15 Agustus 2012 08:19 WIB     
 
Cici Tegal Ajari Bisnis Lele
ANTARA/Puspa Perwitasari/bo
JAKARTA--MICOM: Artis dan komedian Cici Tegal mengaku jengah dengan stigma mental pengemis yang melekat pada kaum muslim. Ia sering melihat kaum muslim meminta-minta di jalan raya, terutama saat melewati jalur Pantura. Untuk itu, ia berencana memberi 'kail’ pada mereka.

“Rencananya sih sudah dari beberapa tahun lalu tapi karena banyak kendala, belum jadi juga. Aku harus cari dulu bidang apa yang gampang untuk orang awam,” kata perempuan kelahiran 19 Desember 1961 ini kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (14/8).

Cici memutuskan untuk mengajari mereka berbisnis lele. Ia melihat peluang pasar di bidang ini cukup besar tetapi modal yang dibutuhkan relatif murah.

Sasaran pertama proyeknya adalah beberapa saudaranya yang kekurangan untuk terlibat dalam program pemberdayaannya. Selain itu, ia juga mengajak beberapa kawan artis untuk terlibat dalam memberi pemodalan dan pendampingan pemasaran bagi mereka.

“Bisnisnya itu mudah tapi menghadapi masyarakat miskin itu susah. Otaknya duit dan agak malas bekerja. Mungkin karena kemiskinan melilit terlalu lama. Untuk itu paradigmanya harus diubah. Itu tantangannya,” imbuh jebolan Bagito Show ini. (Din/OL-12)

Lele Malaysia Banjiri Kota Batam


Bali Mulai Melirik Budidaya Lele
Jumat, 26 Oktober 2012 12:31 WIB     

Bali Mulai Melirik Budidaya Lele
BATAM--MICOM: Paguyuban pembudi daya ikan air tawar Kota Batam berunjuk rasa di halaman kantor wali kota setempat menolak impor lele tanpa izin dari Malaysia, Kamis (18/10).

"Setop penyelundupan lele dari Malaysia. Lele Malaysia yang masuk ke Batam ilegal," kata koordinator aksi Ray Steven di Batam.

Ia meminta oknum yang terlibat dalam impor lele ilegal ke Batam diusut. Pemerintah pusat telah melarang impor ikan dari Malaysia. "Apalagi lele Malaysia haram sesuai dengan fatwa negara setempat. Hentikan lele dari Malaysia," katanya.

Menurutnya, pembudi daya lele di Batam sudah banyak. Karena itu, lele Malaysia merugikan para pembudi daya.

"Kita punya 4.000 kolam. Belum termasuk keramba. Jumlah petani ikan juga mencapai 2.000 orang," kata dia.

Ia mengatakan masuknya lele Malaysia merusak harga lele lokal yang hanya Rp9.000 per kilogram, padahal biaya produksi mencapai sekitar Rp12.300 per kilogram.

"Awalnya pemerintah menyepakati harga lele lokal Rp15.300 per kilogram. Tetapi kenyataannya jauh lebih murah," kata Ray.

Para pengunjuk rasa meminta ada kebijakan yang berpihak kepada petani ikan lokal.

Wakil Wali Kota Batam Rudi mengatakan akan menuntaskan masalah tesebut dalam waktu satu minggu.

"Saya akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar lele dari Malaysia tidak lagi masuk ke Batam. Saya jaminannya. Kalau dalam seminggu tidak selesai, silakan cari saya," kata Rudi. (Ant/OL-9)